UNESA Perkuat SDGs 5 (Gender Equality) pada Forum Internasional SDGs di Hamburg, Jerman
Tim peneliti Unesa yang terdiri dari Dr. Bambang Sigit Widodo, Jauhar Wahyuni, M.Ikom, Tatak Setiadi, M.A, dan universitas mitra Yobe State University, Nigeria, Suleiman Kawuwa menyoroti peran perempuan, khususnya mahasiswa, di Surabaya yang aktif menggunakan teknologi kecerdasan buatan namun masih menghadapi hambatan literasi kritis, sebagaimana tertuang dalam paparan berjudul “Why Trust is Not Enough? Critical AI Literacy and Behavioral Determinants of Women’s AI Engagement in Surabaya, Indonesia”.
Dalam hasil riset yang melibatkan 299 mahasiswa perempuan di Surabaya, tim peneliti menemukan fakta bahwa tingkat kepercayaan yang tinggi pada teknologi AI tidak otomatis menghasilkan pengalaman belajar yang lebih baik. Di sisi lain, penggunaan AI secara terrencana, niat untuk mengoreksi hasil jawaban AI, dan berpikir kritis bahwa AI mungkin saja tidak akurat terbukti menjadi faktor yang jauh lebih kuat dalam mendorong pengalaman penggunaan AI yang bermakna bagi perempuan. Temuan ini memperkuat urgensi SDGs 5 serta rekomendasi UNESCO Beijing Consensus yang menekankan pentingnya memastikan pengembangan AI bebas bias gender.
Joao Eustachio: “Kontribusi Unesa sangat relevan untuk Eropa maupun Global South”
Foto: Penyerahan simbolis kerjasama antara Dr. Bambang Sigit Widodo dan Dr. Joao Eustachio.
Dalam wawancara dengan penyelenggara simposium, Dr. Joao Eustachio, Director of Sustainable Development Research and Practice, HAW Hamburg, menyebut bahwa kontribusi Unesa telah mengisi celah pengetahuan yang selama ini kurang diperhatikan dalam diskusi global.
“Kami melihat banyak riset AI berfokus pada konteks Eropa atau Amerika Utara. Riset dari Unesa membuka perspektif penting bahwa perempuan di negara berkembang mengalami teknologi AI secara berbeda. Ini kontribusi yang sangat relevan untuk jembatan kerja sama global,” ujar Joao.
Ia juga menegaskan bahwa simposium tahun ini memang mendorong kolaborasi lintas kawasan untuk menjawab tantangan pendidikan menuju keberlanjutan di era digital.
Dua tokoh akademik internasional yang hadir dalam simposium turut memberikan tanggapan atas kontribusi Unesa.
Dr. Deborah E. de Lange dari Toronto Metropolitan University, yang menjadi pembicara utama pada hari pertama, menilai riset Unesa sebagai langkah strategis untuk memastikan transformasi digital tidak meninggalkan perempuan.
“Jika kita ingin transisi ke ekonomi berkelanjutan dan etis, perempuan harus berada di garis depan. Pendekatan Unesa sangat maju karena melihat AI bukan hanya alat, tetapi ruang baru bagi kesetaraan gender.”
Sementara itu, Dr. Gloria Adelaide Sosu dari Ghana Communication Technology University, yang juga mempresentasikan riset tentang pedagogi inklusif, menyatakan bahwa pengalaman Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan negara-negara Afrika.
“Kami melihat pola yang mirip, yaitu akses teknologi meningkat, namun literasi kritis tertinggal. Unesa menunjukkan model penelitian yang bisa direplikasi oleh universitas negara lain untuk memperkuat SDGs 5 dan SDGs 4 sekaligus.”
Komitmen Unesa dalam Agenda SDGs Global
Selain memaparkan isu kesetaraan gender dan AI, Unesa melalui SDGs Center menegaskan posisinya sebagai kampus yang aktif mendorong integrasi SDGs dalam kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat.
Reputasi Unesa dalam SDGs secara global juga ditunjukkan lewat pemeringkatan Times Higher Education Impact Ranking (THE IR) yang menempatkan SDGs 5 sebagai salah satu kekuatan utama universitas. Partisipasi Unesa di Hamburg bukan hanya agenda akademik, tetapi juga diplomasi pengetahuan Indonesia di komunitas internasional, khususnya dalam memperjuangkan isu kesetaraan gender di era digital.
Dengan semakin pentingnya literasi kritis AI untuk perempuan muda di seluruh dunia, riset Unesa menegaskan bahwa pendidikan tinggi Indonesia mampu menjadi penyumbang utama dalam mendorong keadilan gender dan inovasi digital yang inklusif.
Simposium pun ditutup dengan penegasan bahwa kolaborasi global seperti yang dilakukan Unesa akan menjadi kunci percepatan pencapaian SDGs secara berkelanjutan dan berkeadilan..
Penulis: Tim Peneliti
Share It On: