Waspada Si Vibrio! Ancaman Ganas di Tambak Udang Vannamei Anda
Para pembudidaya udang tentu tidak asing dengan nama Vibrio. Di antara banyak jenisnya, Vibrio parahaemolyticus adalah salah satu yang paling ditakuti. Bakteri ini adalah biang kerok di balik penyakit mematikan yang sering menyebabkan kerugian besar, salah satunya AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) atau yang dulu dikenal sebagai EMS (Early Mortality Syndrome).
Mengenal musuh adalah langkah pertama untuk menang. Mari kita kupas siapa itu V. parahaemolyticus dan bagaimana cara mencegahnya.
Apa Itu Vibrio parahaemolyticus?
V. parahaemolyticus adalah bakteri yang secara alami hidup di lingkungan perairan payau, seperti tambak. Dalam jumlah normal, mereka tidak berbahaya. Namun, ketika kondisi lingkungan memburuk, populasi bakteri ini bisa meledak tak terkendali. Strain tertentu dari bakteri ini menghasilkan racun yang langsung menyerang dan merusak hepatopancreas—organ vital pada udang yang berfungsi seperti hati dan pankreas pada manusia, untuk pencernaan dan penyerapan makanan.

Bagian tengah usus (MG), hepatopankreas (HP), dan lambung (ST) yang normal berwarna coklat seperti terlihat pada gambar (a) udang yang sehat semuanya berubah pucat pada (b) udang yang terinfeksi AHPND (Sumber: Kumar et al., 2020).
Gejala Udang yang Terinfeksi
Udang yang terserang AHPND dari Vibrio ini menunjukkan tanda-tanda khas:
- Kematian Massal Dini: Kematian terjadi secara massal, dimulai sejak udang berumur 10 hingga 30 hari setelah tebar.
- Hepatopankreas Rusak: Organ hepatopankreas berubah warna menjadi pucat, mengecil, dan sering kosong atau mengeluarkan cairan.
- Perut Kosong (Empty Gut): Saluran pencernaan udang terlihat kosong karena berhenti makan.
- Udang Lemah dan Kurus: Udang berenang di permukaan, lesu, dan tubuhnya terlihat kurus serta lunak.
Cara Mencegah Infeksi Vibrio parahaemolyticus
Pencegahan adalah kunci utama, karena begitu udang terinfeksi, penanganannya sangat sulit. Strateginya adalah menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi Vibrio untuk berkembang biak.
a. Persiapan Tambak yang Sempurna:
- Pengeringan dan Pengolahan Dasar Tambak: Keringkan dasar tambak hingga benar-benar retak untuk mematikan bakteri dan organisme patogen sisa siklus sebelumnya.
- Pemberian Probiotik: Sebelum tebar, berikan probiotik (bakteri baik) ke dalam air untuk membentuk komunitas mikroba yang menguntungkan dan bersaing dengan Vibrio.
b. Manajemen Kualitas Air yang Ketat:
- Kontrol Kepadatan: Hindari menebar benur terlalu padat agar tidak menumpuknya sisa pakan dan kotoran.
- Jaga Kestabilan Plankton: Bloom alga yang tidak terkontrol lalu mati mendadak akan menyebabkan kondisi lingkungan stres dan memicu ledakan Vibrio. Pertahankan kecerahan air yang ideal.
- Optimalkan Aerasi: Pasokan oksigen terlarut yang tinggi (> 5 mg/L) sangat penting. Oksigen yang cukup mendukung kesehatan udang dan bakteri baik, serta menekan bakteri anaerob.
c. Manajemen Pakan yang Tepat:
Hindari overfeeding (kelebihan pakan). Sisa pakan yang membusuk di dasar tambak adalah "makanan mewah" bagi Vibrio.
d. Penggunaan Benur yang Sehat dan SPF:
Pilih benur yang Specific Pathogen Free (SPF) dari hatchery yang terpercaya untuk memastikan mereka tidak membawa penyakit sejak awal.
e. Bioposekuriti yang Ketat:
- Batasi akses orang dan kendaraan ke area tambak.
- Gunakan footbath (kolam rendam kaki) dan vehicle dip (bak rendam roda) untuk disinfeksi.
- Pastikan air yang digunakan bebas dari Vibrio dengan melakukan filtrasi dan treatment yang memadai.
Kesimpulan
Vibrio parahaemolyticus adalah ancaman nyata, tetapi bukan tidak bisa dikelola. Dengan manajemen budidaya yang bersih, disiplin, dan proaktif, kita dapat menekan populasi bakteri ini. Fokuslah pada pencegahan dengan menciptakan lingkungan tambak yang sehat dan stabil, karena udang yang sehat pada lingkungan yang baik akan memiliki ketahanan alami yang lebih kuat terhadap serangan penyakit.
Referensi
Jiao, L. F.; Dai, T. M.; Zhong, S. Q.; Jin, M.; Sun, P. and Zhou, Q. C. (2020). Vibrio parahaemolyticus infection impaired intestinal barrier function and nutrient absorption in Litopenaeus vannamei. Fish Shellfish Immunol, 99, 184-189. https://doi.org/10.1016/j.fsi.2020.02.009
Kumar, R.; Ng, T. H. and Wang, H. C. (2020). Acute hepatopancreatic necrosis disease in penaeid shrimp. Reviews in Aquaculture, 12(3), 1867-1880. https://doi.org/10.1111/raq.12414
(pasm)
Source: https://akuakultur.fkp.unesa.ac.id/post/waspada-si-vibrio-ancaman-ganas-di-tambak-udang-vannamei-anda
Share It On: